Tampilkan postingan dengan label Jenis Lele. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jenis Lele. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Juni 2014

Penanganan/Pengobatan Penyakit Lele dengan Bahan Alami

Contoh penanggulangan penyakit lele dengan bahan alami yang sudah dilakukan oleh beberapa pembudidaya ikan lele :

1. Radang usus, 

Analisis, Fakta dan Data, Herbal, Jenis Lele, Kendala/Penyakit, Panduan, Tips dan Trik, Probiotik,
penyakit lele ini biasanya menunjukkan gejala lele akan terlihat berdiri tegak dan bagian kumisnya menyembul di permukaan air, beberapa pembudidaya menyebutnya seperti tiang listrik, jika ikan lele rekan-rekan pembudidaya mengalami penyakit lele seperti ini, penanggulangannya bisa dengan cara menggunakan buah mengkudu yang sudah masak/mateng, caranya mudah, ambil buah mengkudu yang sudah masak lalu masukkan pada kolam lele yang sakit, untuk ukurannya disesuaikan saja dengan besaran kolam, misalnya untuk kolam ukuran 2×4 cukup dengan 1 atau 2 buah mengkudu.

2. Radang Insang, 

penyakit lele seperti ini biasanya menunjukkan ciri insang lele yang memerah. Penanggulangan penyakit lele seperti ini bisa dengan cara menggunakkan daun sirih dan daun pepaya. Caranya, ambil 10 lembar daun sirih dan 10 lembar daun pepaya segar, lalu rebus dengan 1 liter air (1gayung) biarkan mendidih sampai air sat/susut menjadi tinggal 1 gelas. Setelah itu larutkan hasil rebusan air yang 1 gelas tadi dengan 10 gelas air bersih, hasil campuran inilah yang bisa digunakan, tebarkan larutan ini secukupnya pada permukaan air kolam yang terkena penyakit, dosis harus disesuaikan dengan luas kolam.

3. Asam lambung, 

lele yang terkena penyakit ini biasanya akan terlihat kembung karena berisi gas/angin dan cairan, untuk penyakit ini penanggulangannya bisa dengan cara seperti penanggulangan pada penyakit radang insang.

4. Penyakit jamur/radang kulit, 

biasanya pada kulit lele akan terlihat bercak-bercak putih, atau jika yang sudah parah kulitnya seperti terkelupas, untuk penyakit lele jenis ini, penanggulangannya bisa dengan ramuan seperti pada penanggulangan pada penyakit radang insang (no.2) hanya saja agar khasiat ramuan lebih efektif, sebaiknya ikan lele yang sakit direndam dalam baskom yang telah diisi dengan ramuan tersebut. jika jumlah ikan lele yang sakit banyak, penanggulangan penyakit lele bisa dengan cara seperti di bawah ini :
  1. Kuras air kolam 50%
  2. Siapkan baskom/wadah yang bisa menampung jumlah ikan yang akan diobati, isi dengan ramuan daun pepaya dan daun sirih (yang telah dicampur dengan air bersih 10:1)
  3. Masukan ikan lele kedalam baskom/wadah, waktunya disesuaikan saja, jangan terlalu lama, jika ikan lele terlihat sudah megap-megap, berarti sudah cukup.
  4. Kembalikan ikan lele ke dalam kolam, tambahkan air kolam seperti volume awal, sebaiknya gunakan air yang berkualitas baik (Sudah dikompos atau air yang sudah melalui proses persiapan untuk air kolam).
  5. Untuk membantu proses penyembuhan, boleh menebar cairan ramuan tersebut ke dalam kolam (cara no.2), ditambah dengan memasukan buah mengkudu yang sudah masak/mateng (cara no.1)

Ini hanyalah beberapa contoh cara penanggulangan penyakit lele dengan menggunakan bahan-bahan alami yang telah dilakukan oleh beberapa pembudidaya,

Sumber: Komunitas Lele Sangkuriang

Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini
Salam Patilers

Rabu, 16 Oktober 2013

Budidaya Lele Intensif di Lahan Sempit dengan Sistem Bioflok

Secara umum saya lebih tertarik menjalankan sistem/teknik pemeliharaan/pembesaran sistem Organik. Namun ada beberapa teman yang bertanya tentang sistem Bioflok. Sejujurnya saya kurang memahami sistem ini karena belum pernah menerapkan dan mempraktikan sistem Bioflok. Namun hal ini tidak selalu harus jadi alasan untuk tidak berbagi ilmu. berikut ada artikel menarik tentang sistem Bioflok.

Budidaya dengan teknologi bioflok kepadatan lele dapat mencapai 1.000 ekor/m2, mampu memperoleh konversi pakan  0,8 (0,8 kg pakan membentuk 1  kg daging lele)

Kian merebaknya penggunaan teknologi bioflok, budidaya lele intensif kini dapat dilakukan di pekarangan rumah. Hal ini karena tidak perlu kolam yang luas untuk berbudidaya lele. Dengan kolam fiber berbentuk bulat berdiameter 2,5 m, Legisan sudah dapat berbudidaya lele. ”Satu kolam diameter 2,5 m saya bisa tebar 5.000 ekor lele,” tutur Legisan seorang pembudidaya lele di daerah Depok kepada TROBOS Aqua.

Legisan yang lama menjadi motivator di ESQ, mulai awal 2013 fokus menekuni budidaya lele teknologi bioflok di farm miliknya yang dinamai farm 165. Dengan luasan lahan 1.000 m2, ia dapat membuat 40 kolam dengan rata-rata luasan per kolam luas sekitar 6,25 m2. Saat ini total populasi pembesaran lele yang ada di farm 165 mencapai 200 ribu ekor. ”Nanti panen total produksi bisa sekitar 20 ton karena rata-rata SR (survival rate)/tingkat kelangsungan hidup lele di atas 90 persen,” ujar ujar lelaki asal Sumatera Utara ini  semangat.  

Teknis Budidaya
Sistem bioflok ini sebelumnya telah diterapkan pembudidaya lele di Pekalongan sejak 2010 lalu.

Dijelaskan Suprapto, budidaya bioflok harus ada pemberian probiotik, penambahan aerator dan sirkulator, juga tidak boleh dilakukan di kolam tanah. ”Perlu persiapan media pemeliharaan 5 - 7 hari sebelum tebar benih,” ungkap Suprapto. Secara rinci ia menjelaskan langkah persiapan kolam yang perlu dilakukan pada sistem bioflok.

Pertama isi kolam dengan ketinggian air 80 hingga 100 cm, kemudian lakukan sterilisasi air.  Sterilisasi dilakukan dengan pemberian kaporit 20 - 30 gram/m3 air, lalu aerasi hingga 3 hari sampai bau kaporit hilang. Kemudian tambahkan garam 1 - 3 kg/m3  air kemudian lakukan aerasi kembali. Esok harinya berikan dolomite/kapur 100 gram/m3  air. Selanjutnya esok harinya berikan molase (tetes) 100 ml/m3 dan probitik misalnya Bacillus sp dan tambahkan pupuk.

Pupuk digunakan guna menumbuhkan plankton atau bakteri baik di kolam, tunggu sekitar 4 hari baru kemudian benih siap ditebar.  ”Benih yang digunakan harus jenis yang unggul supaya memiliki daya tahan yang baik pasalnya kepadatannya sangat tinggi,” ujar Suprapto. Ia menambahkan, pemberian pakan juga harus sangat diperhatikan.

Pemberian pakan dilakukan hanya 2 kali sehari, dan selama budidaya 100 % lele diberikan pakan pelet, tidak boleh dicampur dengan yang lain. ”Pemberian pakan cukup 80 % dari tingkat kekenyangan lele,” ungkap Suprapto. Lebih lanjut ia menerangkan,untuk meningkatkan daya serap nutrisi pakan perlu dilakukan fermentasi pakan selama dua hari dengan mencampur probiotik 5cc/kg.

Analisa Usaha 
Menurut legisan untuk memulai budidaya lele bioflok ini tidak memerlukan lahan yang luas dan modal yang besar. Di pekarangan rumah luasan 15 m2sudah dapat memulai dengan dua kolam. ”Satu kolam sampai panen dari mulai benih, pakan, dan bak budidaya cuma butuh investasi Rp 6,5 juta (komponen ada di tabel),” ungkap Legisan. Dari modal investasi Rp 6,5 juta bisa diperoleh keuntungan Rp 1,5 – 2 juta per kolam/bak satu siklusnya.

Satu siklus panen 2,5 – 3 bulan untuk panen ukuran ukuran 1 kg isi 10 atau 8. Ia juga membuka kemitraan bagi yang ingin berbudidaya lele bioflok. ”Kami menyediakan paket jika ada yang mau mulai budidaya Rp 6,5 juta sampai panen,” ujar Legisan mengajak terapkan sistem bioflok. Jika ingin memahami lebih jauh, Legisan juga menyediakan pelatihan bioflok di farm 165 miliknya. Kedepannya Legisan berharap, akan semakin banyak yang berbudidaya lele dengan sistem bioflok.

Sumber: http://www.trobos.com

Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini
Salam Patilers

Kamis, 26 September 2013

Berikan perhatian khusus saat sortir Lele Sangkuriang

Sortasi, atau penyortiran adalah hal yang biasanya rutin dilakukan oleh pembudidaya lele sangkuriang, terutama para pembudidaya yang sedang membenihkan. Baik untuk keperluan pemerataan, atau puun untuk keperluan lainnya. Namun biasanya ada banyak kesalahan yang dilakukan oleh para pembudidaya, saat melakukan penyortiran lele sangkuriang baik di kolam galian tanah atau kolam terpal, khususnya dalam hal ini pemeliharaan Ikan Lele Sangkuriang.

Para pembudidaya Lele Sangkuriang sering mengabaikan metoda atau cara dalam melakukan penyortiran. Pembudidaya dengan lincahnya masuk kedalam satu kolam lalu berpindah ke kolam yang lain. Bahkan juga dengan entengnya memindahkan atau menyortir Lele dalam satu kolam digabung ke kolam berikutnya. Bila kondisi ikan Lele Sangkuriang yang diperlihara sehat, maka pemindahan ikan dari satu kolam ke kolam lain atau proses sortir nyaris tidak ada masalah. Bayangkan jika di satu kolam terdapat bibit penyakit, kemudian menyebar ke kolam-kolam yang lainnya. Selain itu, tindakan yang dilakukan diatas akan menyebabkan Lele Sangkuriang yang dipelihara stress.

Masalahk yang harus dihindari adalah bila Lele yang di sortir mengalami suatu penyakit, misal: penyakit moncong putih, badan kuning dan penyakit badan ikan Lele yang totol luka. Penyakit ini diakibatkan oleh bakteri dan jamur. Bila benih ikan Lele Sangkuriang mengalami penyakit ini kemudian di pindahkan dan disatukan dengan lele yang sehat, maka proses pemindahan dan sortir akan segera memacu terjadinya wabah yang sangat merugikan. Awalnya cuma satu kolam yang tertular penyakit ini, dalam seketika bisa menjadi wabah yang mematikanpada semua kolam terpal yang ada.

Adapun penyebab tindakan pemindahan benih ikan Lele dari satu kolam ke kolam lain atau sortir akan menjadi wabah, adalah dikarenakan beberapa hal dibawah ini:
  1. Lele Sangkuriang akan mengalami stress,
  2. Akan terjadi perkelahian antara benih ikan Lele yang dicampur alias sortir,
  3. Hal ini akan berpengaruh pada nafsu makan Lele, sehingga nafsu makannya akan berkurang konsumsi makannya,

Bila ada beberapa benih ikan Lele yang mengalami penyakit, maka selain proses pemindahan benih ikan dan sortir akan mempercepat proses penenularan penyakit tapi juga kondisi benih ikan Lele yang sedang tidak fit (sehat), akan membuat penyakit jadi wabah yang sangat merugikan petani ikan.

Tips dan Trik

  1. Sebaiknya hindari proses sortir dan menggabungkan ikan dari satu kolam ke kolam yang lain; 
  2. Sediakan satu atau dua kolam kecil untuk penyortiran. Bisa untuk tempat sementara benih ikan Lele yang mau dijual, atau tempat penanganan benih ikan Lele yang sedang mengalami penyakit.
  3. Penanganan kolam benih ikan Lele yang sedang sakit alias bermasalah harus terpisah, agar kita menghindari kontamiasi ke kolam yang lain.
  4. Kalaupun mau melakukan sortir benih ikan Lele sebaiknya dilakukan pada sore atau malam hari. Hal ini hanya untuk mengurangi stress pada benih ikan Lele.
  5. Dapat juga mencampurkan endrop (cairan stress pada ayam) pada pakan benih ikan Lele. Berikan pakan campuran tersebut enam jam sebelum benih ikan Lele di sortir. Juga berikan pakan campuran yang sama pada pagi esok harinya.
Demikian artikel ini, semoga dapat menjadi manfaat.

Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini
Salam Patilers

Rabu, 18 September 2013

Lama Pemeliharaan dalam Tahap Kehidupan Lele Sangkuriang

Ada banyak hal yang menarik yang bisa kita gali dari lele sangkuraing ini. banyak hal yang ingin kita ketahui dari Lele sangkuriang. salah satunya adalah lama Pemeliharaan Sikumis dari mulai telur higga dapat dipanen.

Gambar dari Goole Images
Banyak orang awam ingin tahu berapa lama sich sebenarnya periode waktu pertumbuhan ikan Lele jenis Sangkuriang? Baik waktu dalam usaha budidaya pembenihan dan pembesaran. Sebab dengan mengetahui jangka waktu pertumbuhan ikan Lele jenis Sangkuriang ini. Selanjutnya petani dapat memperhitungkan berapa biaya yang dihabiskan selama proses pemeliharaan, berapa modal yang perlu disiapkan dan berapa keuntungan yang diperoleh dari hasil usaha ikan Lele yang ditekuni.
  1. Masa Pemijahan, ikan Lele membutuhkan waktu 12-24 jam untuk pemijahan.
  2. Masa Telur, telur yang sudah dibuahi oleh Lele Pejantan akan menjadi nener (benih kecil ikan lele) dalam jangka waktu 3-5 hari setelah terjadi pemijahan.
  3. Masa Pertumbuhan benih ikan Lele jenis Sangkuriang, dari nener ke ukuran benih 5-6 cm, memerlukan waktu 40-50 hari.
  4. Masa Pertumbuhan benih ikan Lele jenis Sangkuriang, dari ukuran benih 5-6 cm ke 8-10 cm, memerlukan waktu 10-15 hari.
  5. Masa Pertumbuhan benih ikan Lele jenis Sangkuriang, dari ukuran benih 8-10 cm, hingga siap panen yakni berat 12,5-15 ons, memerlukan waktu 40-50 hari.

Selanjutnya silahkan mengkalkuasi sendiri berapa biaya yang anda perlukan, berapa modal yang anda butuhkan dan berapa keuntungan yang bisa anda raup dalam menekuni bisnis ikan Lele jenis Sangkuriang.  

Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini
Salam Patilers

Selasa, 03 September 2013

Mengenali dan Memilih benih lele Sangkuriang yang berkualitas

Mengenali dan memilih bibit lele yang berkualitas, merupakan langkah awal yang baik saat memulai pembesaran lele sangkuriang. Bagaimana pun teknik yang digunakan, pakan yang diberikan, kolam yang disediakan, tidak akan menghasilkan hasil yang maksimal jika bibit/benih yang digunakan kurang memenuhi syarat. Saat memilih benih Lele Sangkuriang, pilih Benih yang memiliki Pergerakan yang lincah, lele dapat berenang dengan aktif dan sangat responsive. Permukaan badan/kulitnya harus mulus dan sewarna (seragam),


Benih harus mampu bergerak melawan arus yang lembut, caranya adalah dengan memiringkan wadah bibit ikan lele secara perlahan, jika secara umum atau sebahagian besar bibit bergerak melawan arus yang tercipta maka dapat disimpulkan bibit tersebut dalam keadaan baik. Sebaliknya sebagian besar bibit ikan lele langsung terbawa arus maka sebaiknya bibit ini jangan dibeli.

Kondisi kulit dan tubuh benih harus sempurna dan tidak boleh ada cacat. Semakin sempurna bagian-bagian tubuh bibit lele maka semakin baik. Jangan membeli bibit lele sangkuriang yang cacat atau ada bagian dari tubuh yang tidak sempurna karena akan menjadi masalah dikemudian hari.

Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini
Salam Patilers

Senin, 05 Agustus 2013

Kenali jenis dan ragam Lele Konsumsi

Sebagai penghobi lele, ada baiknya kita lebih mengenali jenis dan ragam lele Konsumsi. Kususnya yang hidup dan ada di indonesia dan biasa dimanfaatkan sebagai ikan konsumsi. Kalau istilah pribahasanya tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta hehe.

Ikan lele (Clarias Sp.) merupakan ikan dari genus Clarias yang banyak tersebar di perairan Asia dan Afrika. Di Asia Tenggara Sendiri terdapat 20 jenis ikan dari genus Clarias. Beberapa diantaranya dikonsumsi luas masyarakat karena ketersediaannya melimpah, rasanya gurih dan memiliki kandungan protein tinggi. Namun tidak semua jenis ikan lele cocok untuk dikonsumsi dan dibudidayakan. Hanya ikan lele dari jenis-jenis tertentu saja yang bisa dibudidayakan untuk tujuan konsumsi. Jenis-jenis ikan lele tersebut biasanya memiliki sifat unggul seperti pertumbuhan cepat dan tahan terhadap penyakit. Selain itu, ia harus bisa tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang mempunyai kepadatan tinggi dan kondisi air minim.

Foto by: alamtani.com
Ikan lele banyak hidup di perairan air tawar hingga air payau. Beberepa peternak lele di Pantura Jawa berhasil membudidayakan ikan lele di tambak bekas bandeng dan udang. Pada dasarnya, ikan lele hidup secara nocturnal, aktif bergerak di malam hari. Di perairan bebas lele berada di tempat-tempat air tergenang yang cenderung tenang seperti rawa, danau dan daerah sungai yang agak terlindung. Biasanya ikan ini memilih tempat-tempat yang teduh dan membuat lubang-lubang ditanah.

Ikan lele termasuk pada jenis ikan karnivora atau pemakan daging. Di alam ikan ini menyantap cacing, kutu, larva serangga dan siput air.  Pada keadaan tertentu ia bisa memangsa sesamanya alias kanibal. Biasanya, ikan lele menjadi kanibal karena tak ada makanan lain dan faktor perbedaan ukuran. Lele yang lebih besar akan memangsa kawanan yang lebih kecil.

Ikan lele berkembang biak dengan telur, dan telurnya dibuahi secara eksternal. Musim perkembangbiakan lele secara massal terjadi diawal musim hujan. Dibeberapa kasus masih membiak sepanjang musim hujan. Ikan lele memijah didorong oleh faktor kelimpahan air dan kualitas air, dimana pada musim hujan air cukup banyak dan kualitasnya lebih baik. Lele juga memijah ketika ada rangasangan berupa bau tanah. Tanah yang terjemur kemudian terendam air akan mengeluarkan bau khas yang merangsang ikan memijah. Kondisi ini biasanya terjadi saat hujan tiba.

Di Indonesia, setidaknya terdapat dua spesies ikan lele yang biasa dibudidayakan masyarakat. Yaitu spesies Clarias Batrachus dan Clarias Gariepinus. Dari dua spesies ini, ada beberapa ikan lele yang dikategorikan unggul yaitu lele dumbo, lele sangkuriang dan lele phyton. Setiap jenis ikan lele tersebut memiliki keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Berikut penjelasan dari jenis-jenis ikan lele budidaya di Indonesia.
1. Ikan lele lokal
Ikan lele lokal memiliki nama latin Clarias Batrachus, merupakan jenis ikan lele yang dikenal luas di masyarakat. Sebelum lele dumbo diperkenalkan di Indonesia, para peternak biasa membudidayakan ikan lele jenis ini. Namun saat ini sangat jarang peternak yang membudidayakan jenis lele lokal karena dipandang kurang menguntungkan. Lele lokal memiliki Food Convertion Ratio (FCR) yang tinggi, artinya rasio pakan yang diberikan terhadap berat daging yang dihasilkan tinggi. Perlu lebih dari satu kilogram pakan untuk menghasilkan satu kilogram daging dalam satu siklus budidaya. Selain itu, pertumbuhan lele lokal terbilang sangat lambat. Lele lokal yang berumur satu tahun masih kalah besar dengan lele dumbo berumur 2 bulan!

Terdapat tiga jenis lele lokal yang ada di Indonesia, yaitu lele hitam, lele putih atau belang putih dan lele merah. Diantara ketiga jenis lele itu, lele hitam paling banyak dibudidayakan untuk konsumsi. Sedangkan lele putih dan merah lebih banyak dibudidayakan sebagai ikan hias. Lele lokal memiliki patil yang tajam dan berbisa, terutama pada lele muda. Apabila menyengat, racun yang terdapat pada patil bisa membunuh mangsanya dan bagi manusia bisa membuat bengkak dan demam.
2. Ikan lele dumbo
Ikan lele dumbo pertama kali didatangkan ke Indonesia dari Taiwan pada tahun 1985. Ikan ini menjadi favorit dikalangan peternak karena pertumbuhannya yang cepat dan badannya yang bongsor dibandingkan dengan lele lokal. Sebagai perbandingan, lele dumbo berumur 2 bulan besar badannya bisa dua kali lipat dibanding lele lokal berumur satu tahun.

Menurut keterangan eksportirnya, lele dumbo merupakan hasil perkawinan antara Ikan lele asal Taiwan Clarias Fuscus dengan ikan lele asal Afrika Clarias Mosambicus. Namun keterangan lain menyebutkan lele dumbo lebih mirip dengan Clarius Gariepinus yang hidup di perairan Kenya, Afrika. Banyak literatur yang menggolongkan lele dumbo kedalam jenis yang kedua, termasuk artikel ini. Untuk pastinya, perlu penelaahan lebih lanjut dalam mengungkap asal-usul lele dumbo.

Dari sisi fisik, ikan lele dumbo bisa dibedakan dengan lele lokal dari warnanya yang hitam kehijauan. Lele dumbo juga akan bereaksi ketika terkejut atau stres, kulitnya berubah menjadi bercak-bercak hitam atau putih dan kemudian akan berangsur-angsur kembali ke warna awal. Lele dumbo memiliki patil seperti lele lokal, namun patilnya tidak mengeluarkan racun. Lele dumbo juga cocok dipelihara di kolam tanah karena tidak mempunyai kebiasaan membuat lubang. Secara umum, lele dumbo bisa tumbuh lebih cepat, lebih besar dan lebih tahan terhadap penyakit dibanding lele lokal. Namun dari sisi rasa, daging lele dumbo lebih lebih lembek. Sebagian orang menganggap daging ikan lele lokal lebih enak rasanya dibanding lele dumbo.

3. Ikan lele sangkuriang
Ikan lele sangkuriang resmi dilepas oleh Departemen Kelautan dan Perikanan pada tahun 2004. Penelitian ikan lele sangkuriang dilakukan oleh Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPAT) Sukabumi sejak tahun 2002. Penelitian ini berawal dari kekhawatiran para peternak dengan menurunnya kualitas lele dumbo yang beredar di masyarakat. Penurunan disebabkan oleh kesalahan dalam menghasilkan benih dan penyilangan yang terjadi secara terus menerus. Hingga akhirnya diupayakan untuk mengembalikan sifat-sifat unggulnya dengan cara persilangan balik (back cross).

Ikan lele sangkuriang dihasilkan dari indukan betina lele dumbo generasi ke-2 atau F2 dan lele dumbo jantan F6. Induk betina merupakan koleksi BBPAT, keturunan F2 dari lele dumbo yang pertama kali didatangkan pada tahun 1985. Sedangkan indukan jantan merupakan keturunan F6 dari keturunan induk betina F2 itu. Penamaan Sangkuriang diambil dari cerita rakyat Jawa Barat tentang seorang anak yang bernama Sangkuriang yang mengawini ibunya sendiri. Sama seperti yang dilakukan BBPAT yang mengawinkan lele jantan F6 dengan induknya sendiri lele betina F2.

Dari hasil perkawinan ini ternyata didapatkan sifat-sifat unggul seperti kemampuan bertelur hingga 40.000-60.000 butir per sekali pemijahan. Jauh berbeda dengan kemampuan bertelur ikan lele lokal yang berkisar 1.000-4.000 butir. Lele Sangkuriang juga lebih tahan terhadap penyakit, dapat dipelihara di air minim, dan kualitas daging yang lebih baik.

Hanya saja kelemahannya, peternak tidak bisa membenihkan lele Sangkuriang dari induk lele Sangkuriang. Apabila ikan lele Sangkuriang dibenihkan lagi, kualitasnya akan turun. Jadi pembenihan lele Sangkuriang harus dilakukan dengan persilangan balik.

Saat ini BBPAT sedang menggodok varian baru lele Sangkuriang, yaitu ikan lele Sangkuriang II. Jenis ini merupakan perbaikan dari Sangkuriang I. Ikan lele ini persilangan antara indukan jantan F6 Sangkuriang I dengan indukan betina F2 lele dari Afrika. Indukan lele Afrika dipilih karena ukurannya yang besar, bisa sampai 7 kilogram. Hal ini dipandang bisa memperbaiki sifat genetis lele Sangkuriang. Berdasarkan pemulianya, yaitu BBPAT, ikan lele Sangkuriang II pertumbuhannya lebih besar 10 persen ketimbang Sangkuriang dan bobotnya pun lebih bongsor.

Ikan lele sangkuriang II belum dilepas secara bebas. Pihak BBPAT masih melakukan uji multilokasi di daerah Bogor (Jawa Barat), Gunung Kidul (Yogyakarta), Kepanjen (Jawa Timur) dan  Boyolali (Jawa Tengah). Daerah tersebut memang dikenal sebagai sentra-sentra produksi lele nasional.

5. Ikan lele phyton
Berbeda dengan varietas unggul lainnya yang biasanya ditemukan oleh para peneliti, ikan lele phyton ditemukan oleh para peternak ikan lele di Kabupaten Pandeglang, Banten, pada tahun 2004. Ikan lele phyton merupakan hasil dari silangan induk lele eks Thailand F2 dengan induk lele lokal. Sayangnya tidak diketahui apa spesies dari indukannya dan dari generasi keberapa indukan ikan lele lokalnya berasal. Menurut para penemunya, indukan didapat dari ikan lele lokal yang banyak dibudidayakan masyarakat setempat secara turun temurun. Tapi berdasarkan beberapa literatur, lele phyton berasal dari induk betina lele eks Thailand F2 dengan induk jantan lele dumbo F6.

Ikan lele phyton mempunyai ketahanan terhadap cuaca dingin, tingkat kelangsungan hidup (survival rate) lebih dari 90%. Sementara itu, FCR mencapai 1, artinya satu kilogram pakan menjadi satu kilogram daging dihitung mulai benih ditebar sampai panen dengan siklus pemeliharaan selama 50 hari.

Pada awalnya proyek Ikan lele phyton ini dilakukan untuk menjawab keluhan para peternak lele di Desa Banyumundu, Kabupaten Pandeglang. Mereka sering mengalami kerugian karena tingkat mortalitas yang tinggi dari benih lele yang dibeli dipasaran, seperti lele dumbo. Benih lele tersebut rupanya tidak cocok dibudidayakan di Desa Banyumundu yang beriklim dingin, pada malam hari berkisar 17 derajat celcius. Dengan metode try and error selama lebih dari 2 tahun akhirnya mereka menemukan varietas lele yang kemudian dinamakan Ikan lele phyton. Kualitas lele phyton ini juga diakui oleh Dinas Perikanan Budidaya Provinsi Banten.

Sesuai dengan namanya, lele phyton memiliki bentuk kepala seperti ular phyton. Gerakannya lebih lincah dari lele dumbo dan rasa dagingnya lebih gurih, tidak lembek. Dari segi rasa, lele phyton lebih mendekati lele lokal.
 
Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini
Salam Patilers