Tampilkan postingan dengan label Bioflok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bioflok. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 November 2013

Menerapkan sistem Bioflok pada Budidaya Lele Sangkuriang

Saya ingin sekali menungkatkan produktifitas lele sangkuraing ke tahapan selanjutnya. namun berdasarkan pengalaman, peningkatan produksi bisa dilakukan dengan beberapa cara diantaranya adalah memperbanyak kolam, atau meninggikan jumlah padat tebar.

Saya rasa sangat menarik menggunakan metode yang ke 2 yakni meningkatkan padat tebar. karena jika harus memperbanyak kolam, tentu diperlukan dana investasi yang tidak sedikit. Nah salah satu teknik yang bisa digunakan menurut para master adalah mengggunakan teknik pembesaran bioflok. Namun Sumber ilmunya sangat jarang bahkan bisa dibilang langka.

Namun saya mendapat beberapa artikel menarik tentang bioflok, seperti yang diutarakan oleh Noer Rachman Hamidi dari agribisnis-indonesia.com, berikut ulasannya:

Berbekal bimbingan praktisi bioflok di tambak udang, Amir dan komunitasnya mengadopsi sistem ini pada budidaya lele. Konversi pakan atau FCR bisa mencapai 0,8 hingga 0,7.

Kian sulitnya sumber air di wilayah Pekalongan Jawa Tengah, banyak kolam lele yang berhenti beroperasi. Saat musim kemarau, banyak pembudidaya yang kesulitan sumber air. “Misalkan, ada yang memakai pompa untuk menyedot sumber air, hanya setiap 2 – 5 menit air berhenti mengalir,” ujar pembudidaya lele asal Pekalongan, Muhammad Amir yang tergabung di Forum Komunikasi Mina Pantura (FKMP).

Penerapan Bioflok pada Budidaya Lele

Mengatasi hal ini, salah satu caranya meminimalkan penggantian air. Amir dan pembudidaya lain menerapkan puasa pakan pelet seminggu sekali. “Harapannya, seperti manusia, ada proses detoksifikasi, peluruhan protein cacat, hingga pembaruan sel organ pencernaan, selain mengurangi limbah yang dihasilkan dari pakan dan kotoran lele,” tutur pria berusia 38 tahun ini.

Amir mengungkapkan, pembudidaya berusaha berinovasi sistem lain. Ditambah informasi yang dibagikan praktisi bioflok udang, salah satunya Suprapto yang berdomisili di Pacitan, Amir bersama pembudidaya di daerahnya mencoba sistem bioflok pada budidaya lele. Dengan bantuan dan bimbingan Suprapto, para pembudidaya mulai mencoba  sistem ini sejak 2010.

Hasilnya, setelah 2 tahun percobaan, FCR (Feed Convertion Ratio) atau konversi pakan menjadi lebih bagus, sehingga sistem ini dikembangkan. Yakni, rata-rata FCR bisa mencapai 0,8 hingga 0,7. Artinya, untuk 1 kg daging hanya membutuhkan 0,7 – 0,8 kg pakan. Beda dengan sistem konvensional dengan rata-rata FCR 1,1 hingga 1,2.

Pengaruhnya, efisiensi pakan dengan pertumbuhan cepat juga mempengaruhi pemberian pakan. “Contohnya, efisiensi pakan dimulai dari pemberian pakan, kita cuma 2 kali sehari. Sedangkan yang konvensional bisa mencapai 3 – 4 kali sehari,” tukas Amir.

Selain itu, lanjut Amir, dengan efisiensi pakan ini, pertumbuhan lele menjadi lebih cepat dan dari segi rasa juga berbeda. “Kita melihat empedu menjadi lebih bening, lever menjadi lebih besar, dagingnya memiliki lemak yang lebih sedikit. Warna daging lebih putih, tekstur pun menjadi lebih jelas dan rasa lebih gurih,” tambahnya.

Proses
Amir lalu merunutkan, dulunya proses yang dia jalankan berlangsung bertahap. Awalnya dia mencoba dulu di kolam sendiri. “Bentuk kolam persegi dengan ukuran 3x4x5m. Kita coba mulai dari kepadatan 500 ekor per m2, lalu 650 ekor per m2, dan sekarang 800 ekor per m2,” tambah Amir yang mengaku sudah memiliki kurang lebih 30 kolam.

Prinsip bioflok ini, yakni memanajemen air dengan intervensi bakteri, terutama dengan mengakali rasio keseimbangan unsur C (Carbon) dan N (Nitrogen), sehingga meminimalisir penggantian air di kolam. “Cara menjaga keseimbangan rasio itu dikonsepkan secara bertahap, yaitu mulai dari mengurangi limbah beracun (amonia, nitrit, H2S) dengan memanfaatkan mikroorganisme (bakteri dan yeast), hingga mendaur ulang Nitrogen anorganik yang bersifat racun menjadi protein sel tunggal,” jelas Amir.

Amir mencontohkan limbah yang dimaksud berasal dari sisa pakan, kotoran ikan, hingga plankton/jasad yang mati. “Misalnya saja, dari pemakaian pakan, hanya 30% yang terserap oleh ikan, sisanya menjadi kotoran yang akan berperan membentuk amonia, hingga nitrit tadi,” tambahnya.

Ia menambahkan, dengan pemakaian bioflok, ada penambahan bakteri/probiotik yang mampu memanfaatkan NH3 dari amoniak dan NH4 dan diambil untuk dijadikan protein sel. “Protein sel ini nanti diikat oleh polimer yang dihasilkan bakteri lain. Dengan adanya protein yang terikat, bakteri akan mengumpul dan menarik konsumen di atasnya, seperti rotifera hingga cacing. Dari sini, selain mendaur ulang nitrogen anorganik, sekaligus menjadi pakan alami,” imbuhnya.

Persyaratan bioflok ini, Amir menuturkan, rasio C dan N haruslah imbang. Misalkan C per N di suatu kolam hasilnya di bawah 12, maka akan terjadi nitrifikasi sehingga yang bekerja bakteri nitrifikasi. “Misalkan rasionya di atas 12, barulah yang bekerja bakteri sintesa protein dari bioflok. Hasilnya pun menjadi sangat baik. Jadi tujuannya agar rasio C dan N harus di atas 12,” ungkapnya.

Bapak dua orang anak ini menjelaskan pula, untuk menjaga keseimbangan rasio C dan N harus ditambahkan karbohidrat sebagai sumber energi untuk merangsang perkembangan bakteri heterotrof, serta menyerap mineral dalam air (termasuk amonia) untuk disintesis menjadi protein. Kasarnya prosesnya seperti ini:C-ORGANIK + NH3 + O2  --> PROTEIN MIKROBA + CO2

Nah mudah-mudahan artikel ini bisa sedikit memberikan gambaran mengenai sistem bioflok
Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini
Salam Patilers

Minggu, 17 November 2013

Budidaya Lele Dengan Kombinasi Sistem Tertutup dan Bioflok

Sistem Bioflok merupakan salah satu sistem yang sudah mulai banyak digunakan. namun referensinya sangat minim. Tidak banyak yang mau share (secara gratis) teknik pengembangan dengan sistem ini. Maklum mungkin karena belum banyak juga yang menguasai sistem ini termasuk saya.

Berikut ini ada sebuah artikel yang bersumber dari trobos tentang budidaya bioflok
Untuk efisiensi biaya dalam budidaya lele, telah dicoba dengan solusi budidaya dengan kombinasi sistem tertutup dan bioflok. Budidaya lele dengan sistem air tertutup dan adopsi sistem bioflok sederhana tak hanya mampu menekan biaya pakan, tetapi juga meningkatkan kepadatan tebar dan menurunkan biaya produksi benih.

Gambar dari Google Images
Menurut Dwi Purnomo, Technical Service Area Banyumas PT Suri Tani Pemuka, kunci dari keberhasilan sistem ini adalah kestabilan pH(keasaman) dan eksistensi bakteri pengurai bahan organik yang sekaligus membentuk flok. “Kalau memilih sistem bakteri, maka tidak lagi boleh ada plankton dalam air, juga sebaliknya. Sebab pembentukan flok akan terganggu dengan adanya plankton dalam air,” tuturnya.

Sayang, karena konstruksi kolam lele yang rata-rata tidak tertutup/tidak beratap maka pada musim hujan kemasukan air hujan sehingga terjadi perubahan komposisi kimiawi maupun biologi air, plankton biasanya akan tumbuh. “Walaupun begitu, sistem ini tetap efektif asal persiapan air pada awal periode pemeliharaan sudah benar,” tegasnya.

Tingkat keamanan close system dan flok pada budidaya lele ini, kata Dwi Purnomo, akan sempurna jika benih yang digunakan hasil pembenihan sendiri. Sebab benih merupakan faktor resiko terbesar pembawa penyakit ke dalam kolam selain air. “Bibit dari luar, apalagi dari pasar yang tidak jelas asal-usul dan riwayat manajemen pembenihannya berisiko besar membawa penyakit,”tandasnya.
Manajemen Air

Menurut Suminto, pelopor budidaya lele dumbo di Pokdakan dan UPR (Unit Perbenihan Rakyat) yang terletak di Mandiraja, Banjarnegara, Jawa Tengah, agar air baru memenuhi syarat untuk budidaya sistem tertutup, harus ditumbuhkan pakan alaminya.

“Pakan alami berupa daphnia. Selain itu juga harus tumbuh bakteri yang nantinya saat budidaya berjalan akan menghasilkan flok. Flok ini juga pakan alami,” terangnya. Flok pada lele ini, meskipun belum serumit dan sebagus pada budidaya udang, menurut pengalaman Suminto cukup untuk menurunkan FCR (konversi pakan) sebesar 0,2 bahkan lebih.
Untuk petakan kolam 3x5x0,5 m3 Suminto memasukkan 10 kg kompos dalam karung ke dalam air kolam. Setelah itu, air diberi larutan campuran probiotik 5 ml/m3 dan tetes tebu (molasses) 200 g/m3. Setelah itu air didiamkan minimal selama 1 pekan, sampai timbul kutu air (daphnia). Daphnia menjadi pakan alami benih yang akan ditebar. “Populasi daphnia biasanya mencapai puncaknya pada umur 15 hari setelah air diolah. Mereka muncul begitu saja,” jelas pembudidaya yang mengantongi banyak sertifikat pelatihan dari Kemnterian Kelautan dan Perinanan ini.

Menurut Suminto, air bekas kolam yang telah dipakai pada budidaya periode sebelumnya, harus melalui perlakuan yang hampir sama agar bisa dipergunakan kembali. Selain untuk menekan risiko akibat residu maupun patogen, juga untuk memulihkan nutrisi alami dan keseimbangan mikroorganisme yang ada didalam air itu. Bedanya, kata Suminto, pada air bekas ini tidak perlu diberi kompos lagi. Sedangkan dosis larutan probiotik dan molasses sama persis.

Suminto menyatakan, selain ditandai munculnya daphnia, air sudah ‘jadi’ dan siap ditebari benih jika air kolam warnanya hitam kecoklatan. Namun jika air diambil dengan gelas tetap terlihat jernih. Begitu ikan/benih ikan dimasukkan ke kolam akan muncul ‘kabluk’ (endapan halus) dari dasar kolam. Kabluk yang sebenarnya adalah tanda flok mulai terbentuk ini akan terus teraduk sesuai dengan pergerakan aktif ikan. “Maka kepadatan kolam dibuat lebih tinggi agar flok ini terus teraduk,” katanya.

Semakin bertambah umur penebaran air akan berubah menjadi coklat kekuningan, dan lama kelamaan akan menjadi kemerahan. “Itu tanda flok sudah jadi,”tegas Minto. Teknis perlakuan air ini bisa untuk pembesaran benih maupun pembesaran lele konsumsi.

Dwi Purnomo menyatakan, selanjutnya untuk menjaga populasi bakteri, dibuat tabung konservasi di dalam kolam. “Intinya supaya ada bagian dari kolam yang tidak terjamah ikan. Di situ akan jadi reservoir bakteri yang dibutuhkan oleh sistem ini,”terangnya. Tabung itu bisa dibuat dari gorong-gorong berdiameter 40 – 50 cm dengan panjang melebihi tinggi air kolam. Tabung diletakkan vertikal dan ujung lubang bagian atas yang berada di atas permukaan air ditutup.

Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini
Salam Patilers

Rabu, 16 Oktober 2013

Budidaya Lele Intensif di Lahan Sempit dengan Sistem Bioflok

Secara umum saya lebih tertarik menjalankan sistem/teknik pemeliharaan/pembesaran sistem Organik. Namun ada beberapa teman yang bertanya tentang sistem Bioflok. Sejujurnya saya kurang memahami sistem ini karena belum pernah menerapkan dan mempraktikan sistem Bioflok. Namun hal ini tidak selalu harus jadi alasan untuk tidak berbagi ilmu. berikut ada artikel menarik tentang sistem Bioflok.

Budidaya dengan teknologi bioflok kepadatan lele dapat mencapai 1.000 ekor/m2, mampu memperoleh konversi pakan  0,8 (0,8 kg pakan membentuk 1  kg daging lele)

Kian merebaknya penggunaan teknologi bioflok, budidaya lele intensif kini dapat dilakukan di pekarangan rumah. Hal ini karena tidak perlu kolam yang luas untuk berbudidaya lele. Dengan kolam fiber berbentuk bulat berdiameter 2,5 m, Legisan sudah dapat berbudidaya lele. ”Satu kolam diameter 2,5 m saya bisa tebar 5.000 ekor lele,” tutur Legisan seorang pembudidaya lele di daerah Depok kepada TROBOS Aqua.

Legisan yang lama menjadi motivator di ESQ, mulai awal 2013 fokus menekuni budidaya lele teknologi bioflok di farm miliknya yang dinamai farm 165. Dengan luasan lahan 1.000 m2, ia dapat membuat 40 kolam dengan rata-rata luasan per kolam luas sekitar 6,25 m2. Saat ini total populasi pembesaran lele yang ada di farm 165 mencapai 200 ribu ekor. ”Nanti panen total produksi bisa sekitar 20 ton karena rata-rata SR (survival rate)/tingkat kelangsungan hidup lele di atas 90 persen,” ujar ujar lelaki asal Sumatera Utara ini  semangat.  

Teknis Budidaya
Sistem bioflok ini sebelumnya telah diterapkan pembudidaya lele di Pekalongan sejak 2010 lalu.

Dijelaskan Suprapto, budidaya bioflok harus ada pemberian probiotik, penambahan aerator dan sirkulator, juga tidak boleh dilakukan di kolam tanah. ”Perlu persiapan media pemeliharaan 5 - 7 hari sebelum tebar benih,” ungkap Suprapto. Secara rinci ia menjelaskan langkah persiapan kolam yang perlu dilakukan pada sistem bioflok.

Pertama isi kolam dengan ketinggian air 80 hingga 100 cm, kemudian lakukan sterilisasi air.  Sterilisasi dilakukan dengan pemberian kaporit 20 - 30 gram/m3 air, lalu aerasi hingga 3 hari sampai bau kaporit hilang. Kemudian tambahkan garam 1 - 3 kg/m3  air kemudian lakukan aerasi kembali. Esok harinya berikan dolomite/kapur 100 gram/m3  air. Selanjutnya esok harinya berikan molase (tetes) 100 ml/m3 dan probitik misalnya Bacillus sp dan tambahkan pupuk.

Pupuk digunakan guna menumbuhkan plankton atau bakteri baik di kolam, tunggu sekitar 4 hari baru kemudian benih siap ditebar.  ”Benih yang digunakan harus jenis yang unggul supaya memiliki daya tahan yang baik pasalnya kepadatannya sangat tinggi,” ujar Suprapto. Ia menambahkan, pemberian pakan juga harus sangat diperhatikan.

Pemberian pakan dilakukan hanya 2 kali sehari, dan selama budidaya 100 % lele diberikan pakan pelet, tidak boleh dicampur dengan yang lain. ”Pemberian pakan cukup 80 % dari tingkat kekenyangan lele,” ungkap Suprapto. Lebih lanjut ia menerangkan,untuk meningkatkan daya serap nutrisi pakan perlu dilakukan fermentasi pakan selama dua hari dengan mencampur probiotik 5cc/kg.

Analisa Usaha 
Menurut legisan untuk memulai budidaya lele bioflok ini tidak memerlukan lahan yang luas dan modal yang besar. Di pekarangan rumah luasan 15 m2sudah dapat memulai dengan dua kolam. ”Satu kolam sampai panen dari mulai benih, pakan, dan bak budidaya cuma butuh investasi Rp 6,5 juta (komponen ada di tabel),” ungkap Legisan. Dari modal investasi Rp 6,5 juta bisa diperoleh keuntungan Rp 1,5 – 2 juta per kolam/bak satu siklusnya.

Satu siklus panen 2,5 – 3 bulan untuk panen ukuran ukuran 1 kg isi 10 atau 8. Ia juga membuka kemitraan bagi yang ingin berbudidaya lele bioflok. ”Kami menyediakan paket jika ada yang mau mulai budidaya Rp 6,5 juta sampai panen,” ujar Legisan mengajak terapkan sistem bioflok. Jika ingin memahami lebih jauh, Legisan juga menyediakan pelatihan bioflok di farm 165 miliknya. Kedepannya Legisan berharap, akan semakin banyak yang berbudidaya lele dengan sistem bioflok.

Sumber: http://www.trobos.com

Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini
Salam Patilers