Minggu, 28 Juli 2013

Resep Lele Bumbu Bali - Olahan Lele Sangkuriang

Sambil menunggu buka puasa, nyari sesuatu yang agak beda untuk mengolah lele sangkuriang. eh akhirnya nemu olahan menarik. namanya Lele sangkuriang Bumbu Bali. Oke berikut cara pengolahannya. 


Pertama untuk menghilangkan bau anyir lele, rendam lele dalam air jeruk atau air asam jawa selama 30 menit, tiriskan, dan siap diolah lebih lanjut.

Bahan :
  • 2 ekor ikan lele sangkuriang berat @ 200 gram, siangi
  • 2 sdm air jeruk nipis
  • 1 sdt garam
  • 4 lembar daun jeruk
  • 2 batang serai, memarkan
  • 2 sdm air asam jawa
  • minyak goreng secukunya

Bumbu Halus:
  1. Haluskan 300 gram cabai merah besar
  2. 10 siung bawang merah
  3. 8 siung bawang putih
  4. 1 sdt garam
  5. 2 sdm gula merah/jawa

Cara membuat:
  1. Siangi lele, buang isi perutnya, cuci bersih, lumuri dengan air jeruk nipis dan garam, diamkan sebentar, cuci bersih kembali, kemudian tiriskan.
  2. Panaskan minyak, goreng lele hingga matang, angkat.
  3. Panaskan minyak sisa menggoreng, tumis bumbu yang dihaluskan bersama daun jeruk dan serai. Setelah harum, masukkan air asam jawa dan masak hingga sambal matang.
  4. Siapkan pinggan, tata lele, tuangkan sambal di atasnya, dan sajikan.
Oke, silahkan coba dan semoga olahan ini bisa menjadi variasi baru dalam mengolah lele sangkuriang.

Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini
Salam Patilers

Jumat, 26 Juli 2013

Cara membuat Starter Bakteri dengan Pelepah Pisang

Starter Bakteri merupakan komponen penting dalam berbagai hal berkaitan dengan pembudidayaan lele sangkuriang. Biasanya memang tersedia di toko-toko peternakan, tapi sebenarnya bakteri starter ini bisa kita buat sendiri. Caranya pun gampang. silahkan di praktekan dirumah. berikut caranya:

Gambar dari google images
BAHAN:
  1. Pelepah pisang busuk bagian pinggir sepanjang 40 cm (harus yang benar-benar busuk karena berarti ada bakterinya)
  2. Gula merah atau tetes murni ¼ kg
  3. Air leri (pususan beras) kental 4-5 liter

CARA PEMBUATAN:
  1. Pelepah dicacah sampai lembut
  2. Gula dilarutkan dalam air leri
  3. Pelepah dimasukkan dalam larutan gula dan air leri, diremas-remas, diperas (supaya bakterinya terlepas) dan diaduk
  4. Setelah semuanya tercampur, larutan disaring dan dimasukkan dalam jerigen plastik
  5. Setelah 3 hari dilihat, bila berbusa maka busa harus dibuang
  6. Dibiarkan selama 5-7 hari
  7. Tanda-tanda jadi bau seperti tape
  8. Untuk memelihara bakteri tetap hidup maka larutan diberi gula dan dedak


Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini
Salam Patilers

Rabu, 24 Juli 2013

Mengatasi parasit Pada Lele Sangkuriang dengan Daun Sirih

Ada-ada aja hambatannya dalam menjalankan usaha ini (budidaya lele sangkuriang). Salah satunya adalah parasit yang berkembang pada kolam dan menghambat pertumbuhan dari lele sangkuriang yang kita budidayakan.

Ciri-ciri ikan terkena penyakit yang disebabkan oleh parasit biasanya terdapat bintik-bintik yang berwarna putih pada lapisan kulit serta sirip dan insang. lalu bagaimana mengatasinya? apakah obatnya? dan bagaimana melakukannya? hmmm, ternyata parasit dapat di atasi dengan menggunakan tanaman herbal yang ada disekitar kita. Salah satunya adalah daun sirih. berikut analisis yang saya dapatkan dari forum (kaskus)

Khasiat sirih digunakan sebagai styptic (penahan darah) dan vulnerary (obat luka pad kulit) juga berdaya guna sebagai antioksida, antiseptik, fungisida, dan bakterisidal. Hal ini jelas bahwa daun sirih yang mengandung minyak atsiri bersifat menghambat pertumbuhan parasit dan pada penelitian yang dilakukan membuktikan bahwa atsiri daun sirih dapat menghambat pertumbuhan parasit protozoa pada ikan, namun dalam penerapannya harus memperhatikan ketahanan ikan terhadap air rebusan daun sirih tersebut. konsentrasi yang terlalu tinggi dapat berpengaruh negatif tidak hanya terhadap parasit tapi juga terhadap ikan.

Hasil penelitian menunjukan pengobatan dengan cara perendaman menggunakan bahan alami daun sirih dapat menghambat perkembangbiakan parasit lchthyophthirius multifiliis. pada konsentrasi 8,3 ppt daun sirih, tingkat mortalitas parasit lch mencapai 99,4 %. sedangkan konsentrasi terbaik perendaman dengan daun sirih yang aman untuk ikan dan efektif untuk menanggulangi parasit lch adalah pada 6,7 ppt dengan tingkat mortalitas lch sebesar 86,28% selama 12 jam perendaman.

Hasil pengamatan terhadap gejala klinis dari ikan sebellum dan sesudah perendaman dengan daun sirih menunjukan perbedaan yang nyata. sebelum perendaman, ikan yang terserang parasit lch menunjukan gejala terdapat bintik-bintik putih kecil berwarna putih pad akulit, sirip dan insang.

Sering juga tampak selaput putih abu-abu pada lensa mata ikan. ikan yang telah terinfeksi berat oleh parasit ini akan tampak lemah, sering menyendiri dan menggosok-gosokan ke dasar kolam. selanjutnya ikan akan mengapung atau berada pada permukaan bila mana insang sudah penuh kista parasit lchthyophthirius multifiliis.

Parasit lch yang menyerang insang mengakibatkan insang berwarna merah kehitaman, lamella insang berwarna pucat dan hilangnya fungsi insang, setelah perendaman, ikan yang terserang parasit lch menunjukan perubahan seperti warna pada tubuh kembali cerah dimana bintik tubuh yang ada pada kulit sudah hilang, juga pada sirip ekor, punggung, dada dana perut. Kondisi mata kembali seperti pada saat ikan masih sehat yaitu kehitaman pada lensa mata tampak bening.

Senyawa-senyawa chavicol, alilpirokatekol, kavibetol, kavibetol asetat dan alipirolatekoldiasetat masing-masing pad akadar 200 ug/ml daoat membunuh sempurna C.elegans.

Penggunaan daun sirih untuk pengendalian parasit helminths pada ikan perlu melalui uji pendahuluan untuk mengetahui konsentrasi optimal daun sirih yang dapat menghambat pertumbuhan parasit helminths tetapi aman digunakan untuk ikan.

Selain itu, dalam melakukan pengobatan juga perlu dipertimbangkan cara parasit melakukan penetrasi ke ikan yang akan menentukan metode pengobatan yang dipilih. ukuran ikan, dan spesies ikan yang akan diobati. ukuran dan spesies yang berbeda akan menghasilkan sensivitas yang berbeda terhadap obat yang diaplikasikan 

Referensi: http://old.kaskus.co.id/showpost.php?p=379744471&postcount=95

Semoga bisa sedikit meringankan agan-agan peternak lele sangkuriang

Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini
Salam Patilers

Kenali fungsi dan manfaat Garam Ikan

Dari beberapa postingan sebelumnya, terdapat beberapa penyakit yang solusinya menggunakan garam ikan, garam gosok dan lain sebagainya. Mungkin ada yang bertanya apasih yang dimaksud garam ikan, apa saja amanfaatnya, dan bagai mana menggunakannya, berikut kita bahas (mudah-mudahan memberikan gambaran utuh) tentang Garam ikan.

(Garam Ikan) Gambar dari google images


Apakah garam ikan itu?

Garam yang dimaksud adalah garam NaCl, yaitu garam seperti yang kita kenal pada umumnya sebagai garam dapur dalam kehidupan sehari-hari. Rupa dan rasanya sama. Perbedaan utama antara garam ikan dengan garam dapur atau garam meja adalah pada kemurniannya. Garam ikan diharapkan hanya mengandung NaCl saja, karena kehadiran bahan lain pada garam ini dikhawatirkan akan mempunyai dampak yang tidak diinginkan pada ikan yang bersangkutan. Meskipun demikian banyak dilaporkan bahwa penggunaan garam beriodiumpun tidak menyebabkan dampak merugikan pada ikan-ikan yang diberi perlakuan tersebut. 

Fungsi Garam Ikan

Ikan, lele, maupun makhluk hidup dalam air, dalam hal ini ikan air tawar, di dalam air ibarat sekantung garam. Ikan harus selalu menjaga dirinya agar garam tersebut tidak melarut, atau lolos kedalam air. Apabila hal ini terjadi (garam dalam tubuh ikan larut dalam air atau menurun kadarnya) maka ikan yang bersangkutan akan mengalami masalah. Namun secara umum kulit ikan merupakan lapisan kedap, sehingga garam didalam tubuhya tidak mudah “bocor” kedalam air. Satu-satunya bagian ikan yang berinteraksi dengan air adalah insang.

Pada saat ikan sakit, luka, atau stress proses osmosis akan terganggu sehingga air akan lebih banyak masuk kedalam tubuh ikan, dan garam lebih banyak keluar dari tubuh, akibatnya beban kerja ginjal ikan untuk memompa air keluar dari dalam tubuhnya meningkat. Bila hal ini terus berlangsung, bisa sampai menyebabkan ginjal menjadi rusak (gagal ginjal) sehingga ikan tersebut tewas. Selain itu, hal ini juga akan diperparah oleh luka dan atau penyakitnya itu sendiri. Dalam keadaan normal ikan mampu memompa keluar air kurang lebih 1/3 dari berat total tubuhnya setiap hari. 

Penambahan garam kedalam air diharapkan dapat membantu menjaga ketidak seimbangan ini, sehingga ikan dapat tetap bertahan hidup dan mempunyai kesempatan untuk memulihkan dirinya dari luka, atau penyakitnya. Tentu saja dosisnya harus diatur sedemikan rupa sehingga kadar garamnya tidak lebih tinggi dari pada kadar garam dalam darah ikan. Apabila kadar garam dalam air lebih tinggi dari kadar garam darah, efek sebaliknya akan terjadi, air akan keluar dari tubuh ikan, dan garam masuk kedalam darah, akibatnya ikan menjadi terdehidrasi dan akhirnya mati.

Pada kadar yang tinggi garam sendiri dapat berfungsi untuk mematikan penyakit terutama yang diakibatkan oleh jamur dan bakteri. Meskipun demikian lama pemberiannya harus diperhatikan dengan seksama agar jangan sampai ikan mengalami dehidrasi.

Beberapa Keunggulan Garam Ikan

  • Pemberian garam termasuk aman bagi ikan, asal diberikan dengan dosis yang sesuai. Selain itu juga aman bagi manusia.
  • Seperti disebutkan sebelumnya, garam akan membantu menyeimbangkan kembali proses osmoregulasi dan memicu daya tahan tubuh ikan terhadap penyakit yang dideritanya.
  • Sampai tahap tertentu diketahui garam mampu memblokir efek nitrit. Nitrit dalam air dapat terserap kedalam system peredaran darah ikan, sehingga darah berubah menjadi kecoklatan. Kehadiran nitrit akan menyebabkan kemampuannya untuk membawa oksigen menjadi menurun, sehingga pada kondisi kelebihan nitrit sering terjadi “penyakit darah coklat”. Dengan adanya garam kejadian demikian bisa dihindari.
  • Garam mampu membunuh parasit-parasit bersel tunggal seperti Ich (white spot), jamur dan bakteri lainnya. Terakhir garam mudah didapat dan mudah dibeli, sehingga bisa tersedia setiap saat pada waktu diperlukan.

Dosis dan Cara Pemberian

Beberapa dosis penggunaan garam adalah:
 
  • Sebagai profilaktik:
Sebagai profilaktik, atau sebagai tonik, atau dalam bahasa umum sebagai “jamu” dianjurkan untuk menggunakan garam sebanyak 1 – 2 sendok teh garam per 4 liter air, atau sebanyak 1 – 2 gram per liter. Atau dengan kata lain sebanyak 0.1 – 0.2 persen. Sebelumnya garam disiapkan di suatu wadah. Kemudian dibuat larutan dalam wadah tersebut sesuai dengan dosis. Setelah garam melarut baru dimasukan kedalam kolam. Dosis sebagai “jamu” ini digunakan apabila kita belum tahu persis penyakit apa yang sebenarnya menjangkiti ikan, atau bisa juga digunakan apabila ikan terluka, stress dan sejenisnya. Dengan demikian sistem osmoregulasi ikan tetap prima sehingga ikan mudah melakukan pemulihan.
  • Sebagai perlakuan pengobatan infeksi jamur dan atau bakteri
Untuk keperluan ini diperlukan larutan garam dengan konsentrasi 1 %, atau larutan 10 g garam dan 1 liter air. Pemberian larutan ini hendaknya diberikan secara sedikit demi sedikit sehingga konsentrasi tersebut akan tercapai setelah 24 – 48 jam. Jadi jangan diberikan sekaligus sebanyak 1 %, tapi diberikan secara perlahan-lahan. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya kejutan osmotic, atau stress pada ikan yang bersangkutan.

Pada awalnya konsentrasi larutan dapat dimulai pada tingkat 0.1 – 0.2 %. Kemudian secara teratur garam ditambahkan pada selang waktu tertentu, misalnya setiap 3-4 jam sekali. Apabila pada saat peningkatan konsentrasi garam ini ikan mengalami stress, hentikan segera perlakuan, kemudian ganti air sebagian sehingga konsentrasi garam turun ketingkat semula.
  • Untuk mengurangi pengaruh racun dari nitrit.
Untuk mengurangi pengaruh nitrit dosis yang dianjurkan adalah 1 gram perliter air.
  • Untuk melepaskan lintah pada ikan
Dapat dilakukan dengan merendam ikan yang bersangkutan secara singkat dalam larutan garam 2.5 %. Perendaman pada dosis demikian akan menyebabkan lintah melepaskan diri dari tubuh ikan. Meskipun demikian larutan ini tidak akan membunuh lintah itu sendiri.
  • Sebagai obat infeksi Piscinoodinium (Velvet).
Pengobatan terhadap infeksi Piscinoodinium dapat dilakukan dengan perendaman jangka panjang dalam larutan garam dengan konsentrasi 10 gram per 45 liter air. Atau 1 sendok teh per 4 liter air.

Perhitungan pemberian Garam ikan

Untuk memberikan perlakuan garam yang tepat pertama kali harus diketahui volume air dari kolam yang akan diberi perlakuan. Sebagai contoh apabila anda mempunyai kolam dengan ukuran 5m x 2m x 1m, maka volume airnya adalah 1000 liter air atau sama dengan 1000 kg.
Apabila dosis garam yang diperlukan adalah 1 % maka garam yang diperlukan adalah 1 % (0.01) x 1000 kg = 10 kg . Sedangkan bila dosis garam yang diperlukan adalah 0.1 % maka yang diperlukan adalah 0.1 % (0.001) x 1000 kg = 1 kg.

Berikan bertahap agar lele tidak shock/stress
referensi (diadaptasi dari): http://www.o-fish.com/HamaPenyakit/GaramIkan.htm

Mudah-mudahan bisa mengobati rasa ingin tahu rekan-rekan sesama pembudidaya :)

Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini
Salam Patilers

Selasa, 23 Juli 2013

Cara Mensterilkan Kolam Beton dari bau Semen

Selain kolam terpal, banyak pula peternak yang menggunakan beton sebagai media pembuatan kolam. Selain karena lebih kuat, umur kolam beton juga cukup lama, sehingga lebih memudahkan dalam peraeatan. namun untuk kolam baru, penanganan yang salah dapat menjadikan bibit atau komoditas lele kita menjadi kurang maksimal pertumbuhannya.

Gambar dari google images

Lho Kenapa? hal ini disebabkan pada kolam baru, kandungan bahan kimia terutama dari semen masih menempel kuat pada dinding kolam, sehingga bahan-bahan kimia inilah yang akan membuat ikan/lele kurang baik atau bahkan mati.

Memang lama kelamaan bahan-bahan ini akan hilang dengan sendirinya, namun secara alami butuh waktu 4-6 bulan sebelum kolam dapat digunakan. Lama banget ya hehe. tentu harus ada solusi untuk hal ini.

Berikut tips yang bisa digunakan untuk mensterilkan kolam beton sebelum digunakan.

  1. Pastikan kolam semen tersebut sudah benar-benar kering. Pastikan beton semen sudah kering dan keras.
  2. Cara 1: Rendam kolam tersebut dengan cara diisi air sampai penuh dan dikuras setiap 3 hari dan kemudian diisi kembali. Hal ini dilakukan berulang sampai dengan 1 minggu. 
  3. Cara 2: Kalau mau lebih singkat, kita bisa memakai irisan batang pisang yang digosokkan ke seluruh dinding dan dasar kolam. Setelah digosok, kemudian kolam diisi sampai penuh. Keesokan harinya kuras dan digosok kembali dan lalu diisi kembali. Esoknya, tinggal kuras dan kolam sudah siap dipakai.

Mudah-mudahan dengan cara ini, kolam beton bisa steril dari residu semen.

Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini
Salam Patilers

Minggu, 21 Juli 2013

Panduan Pemeliharaan Larva Lele sangkuriang - Pembenihan Lele Sangkuriang

Selalu menarik mempelajari lele sangkuriang. diawali dengan belajar pembesaran, pemeliharaan, cara panen lele dewasa, sampai mempelajari tingkah laku sikumis yang satu ini. Salah satu bagian yang menarik untuk di pelajari adalah pembenihan. Referensi yang agak terbatas mengenai pemijahan dan kurangnya media untuk bertanya membuat kita harus pandai-pandai mencari sumber ilmu. pagi ini buka-buka kaskus ternyata ada info menarik. ya daripada nanti lupa mending saya share disini, selain sebagai referensi kalo-kalo nanti saya lupa, juga mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi teman-teman yang lain yang juga sedang belajar pembenihan.

Pemeliharaan Larva Lele Sangkuriang

Telur lele sangkuriang akan menetas sekitar (30 – 36) jam setelah pembuahan pada suhu (23 – 24)oC. Pemeliharaan larva pasca penetasan telur dilakukan pada hapa penetasan telur yang dialiri air dan dilengkapi dengan aerasi yang tidak terlalu kencang agar larva tidak teraduk. Pemeliharaan larva dalam happa dilakukan selama (4-5) hari tanpa diberi pakan, karena larva pada saat itu masih memanfaatkan kuning telur yang ada dalam tubuh larva itu sendiri.

Memasuki hari ke-5 dan seterusnya kuning telur dalam tubuh larva telah habis, larva selanjutnya dipindahkan ke dalam bak fiber untuk dipelihara lebih lanjut. Pemeliharan larva dalam bak fiber dilakukan sejak ikan memasuki umur 5 hari hingga 21 hari. Larva dipelihara dalam bak fiber berukuran 4 m x 2 m x 0,8 m dan diisi air sebanyak 1/2 dari tinggi bak dengan padat tebar 15.625 ekor/ m3. Jadi jumlah penebaran larva dalam bak fiber sebanyak 100.000 ekor.

Selama dalam pemeliharaan di dalam fiber, larva umur 5 hari diberi pakan cacing sutra (tubifex sp). Sebelum diberikan, cacing sutra tersebut dicincang terlebih dahulu. Hal itu dilakukan karena ukuran bukaan mulut ikan yang masih kecil. Pemberian cacing sutra cincang diberikan hingga larva berumur 12 hari. Jumlah pakan yang diberikan sebanyak 50 gr setiap kali pemberian pakan pada pagi dan sore hari. Setelah ikan berumur lebih dari 12 hari selanjutnya larva ikan diberi pakan cacing sutra utuh dengan jumlah pakan sebanyak 75 gr setiap kali pemberian pakan pada pagi dan sore hari. Pemberian pakan, selama masa pemeliharaan larva lele sangkuriang diberikan pakan alami dan pakan tambahan. Menurut Mujiman (2000), Pemberian pakan alami disesuaikan dengan ukuran benih. Biasanya efektivitas pertumbuhan benih yang memakan plankton alami berkisar (2–3) minggu sejak ditebar ke kolam. Pakan tambahan diberikan dengan dosis 3% – 5% dari bobot populasi ikan dan diberikan dua sampai tiga kali sehari, pemberiannya dimulai sejak hari kedua setelah benih ditebar.

Untuk mempertahankan kelangsungan hidup larva, maka lingkungan yang baik harus tetap terjaga. Menurut Lukito (2002), dalam kegiatan pengontrolan kualitas air meliputi pergantian air dengan pengaturan volume air dan penyiponan. Pengelolaan kualitas air selama PKL, dilakukan dengan melakukan penyifonan bak pemeliharaan larva setiap pagi hari sebelum pemberian pakan dan penggantian air sebanyak 50%. Penyifonan dilakukan untuk membersihkan sisa-sisa pakan dan kotoran yang terdapat di dasar bak pemeliharaan larva. Sedangkan untuk menambah oksigen terlarut dalam bak pemeliharaan larva, air dalam bak pemeliharaan diberikan aerasi secara terus menerus.

Selama pemeliharaan larva dalam bak fiber tidak memperlihatkan gejala-gejala bahwa ikan terserang hama penyakit. Jika dilihat dari gerakannya yang normal dan nafsu makan yang relatif tinggi menandakan kondisi ikan sehat dan normal. Meskipun kondisi ikan dalam kondisi yang baik, selama dalam pemeliharaan, larva ikan lele sangkuriang tetap diberikan perawatan sebagai upaya pengendalian hama penyakit untuk pencegahan. Menurut Lukito (2004), kegiatan pengendalian hama penyakit meliputi pencegahan dan pengobatan. Tindakan pencegahan yang dilakukan selama PKL yaitu dengan memberikan garam sebanyak 3 kg dalam 3,2 m3 air (1 ppt).

Panen Benih Lele

Larva yang telah berumur 21 hari warna tubuhnya tampak kehitaman dan sudah menyebar dipermukaan air, hal ini menandakan bahwa larva siap dipanen untuk langsung dijual atau ditebar ke kolam pendederan yang sudah disiapkan sebelumnya. Pemanenan larva didahului dengan menutup saluran pemasukan air dan membuka outlet. Kemudian pada pipa outlet dipasang seser halus untuk menampung benih. Menurut Prihartono dkk (2000), larva lele sangkuriang umur satu minggu telah siap untuk dipanen. Selama kegiatan pemanenan perlu adanya perlakuan tertentu karena lele sangkuriang merupakan jenis ikan yang tidak bersisik, tetapi tubuhnya berlendir. Oleh karena tidak bersisik maka tubuhnya sangat mudah mengalami lecet dan luka. Lecet atau luka pada lele sangkuriang dapat disebabkan oleh penggunaan peralatan yang sembarangan, cara panen yang kurang baik dan waktu panen yang kurang tepat.

Hasil sampling bahwa larva lele sangkuriang umur 21 hari kepadatan per mili liternya yaitu 150 ekor atau 15.000 ekor per 100 ml, sedangkan larva yang dipanen sebanyak 5 gelas. Sehingga total larva yang dipanen sebanyak 75.000 ekor (SR 75%). Larva diangkat atau dipindahkan dengan menggunakan beker glass berukuran 100 ml ke dalam baskom penampungan atau langsung dipacking ke dalam kantong plastik berukuran 40 cm x 60 cm dua rangkap dan telah diisi air sebanyak (4 – 6) liter, kemudian diberi oksigen sebanyak 2/3 dan diikat dengan menggunakan karet gelang. Kepadatan larva per kantong tergantung jarak pengangkutan atau permintaan dari pembeli. Tapi biasanya berkisar antara (15.000 – 30.000) ekor larva dalam setiap kantong. Setelah packing, benih siap dikirim ke tempat yang dituju. 

dikutip dari: http://old.kaskus.co.id/showpost.php?p=379398299&postcount=17

Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini
Salam Patilers

Jumat, 19 Juli 2013

Kolam Pemeliharaan Induk - Pembenihan Lele Sangkuriang

Untuk memperkaya Seri Pembenihan (gaya udah kayak mentor aja hehe) di blog ini, berikut ini ada tips untuk membuat kolam lele untuk indukan. Lho emang beda kolam indukan sama pembesaran? tentu saja beda mengingat kebutuhan dasar serta tujuannyapun berbeda.

Gambar dari google images


Hal ini dimaksudkan agar indukan menghasilkan bibit yang berkualitas baik untuk di budidayakan/dibesarkan pada proses selanjutnya. 

Nah berikut syarat Kolam Pemeliharaan Induk Lele Sangkuriang:
  1. Tanah yang baik untuk pemeliharaan adalah jenis tanah liat / lempung, tidak berporos, berlumpur dan subur. Tentu saja kita bisa menggunakan terpal atau tembok.
  2. Ikan lele hidup dengan baik di dataran rendah sampai daerah yang tingginya maksimal 700m dpl. Jadi jika daerah kita berada pada ketinggian yang lebih tinggi usahakan pakai kolam terpal atau tembok. dengan teknik organik agar air memiliki suhu dan PH yang stabil.
  3. Elevasi tanah dari permukaan sumber air dan kolam adalah 5-10%.
  4. Lokasi untuk pembuatan kolam hendaknya ditempat yang teduh, tetapi tidak berada di bawah pohon yang daunnya mudah rontok.

Semoga artikel ini bisa bermanfaat.

Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini
Salam Patilers